Ikatan…

“Kebebasan” dan “Kemerdekaan”, mungkin kedua hal ini terkadang menjadi dambaan bagi setiap manusia yang terkekang dalam ikatan. Dimana tindakan dan pikiran kadang terikat oleh suatu norma, sistem atau hal sejenisnya yang memaksa. Apalagi ketika hal yang memaksa tersebut seolah membatasi perkembangan setiap manusia. Setidaknya itulah mengapa banyak setiap orang yang mendambakan kata “Kebebasan” dan “Kemerdekaan”.

Mungkin hal di atas merupakan sisi kelam yang ada dari suatu ikatan. Seperti, konsep Max Weberian’s State yang menggambarkan bahwa Negara bersifat memaksa dan mengikat. Dimana setiap warga negara tidak bisa sewenang-wenang melakukan sesuatu di dalam sebuah institusi negara karena ada beberepa hal yang memaksa dan mengikatnya, seperti norma dan hukum yang berlaku dan memaksa. Dalam hal ini, tentu saja Negara menjadi sebuah ikatan yang mengikat setiap warga negara, walau pun memiliki sisi kelam yakni bersifat memaksa.

Konsep demokratisasi dan liberalisasi mungkin dapat menjadi salah satu alternatif bagi setiap manusia yang mendambakan kebebasan dan kemerdekaan diri dalam ikatan bernama Negara yang pada hakikatnya bersifat memaksa. Walau pun sebenarnya kebebasan dan kemerdekaan diri tersebut tidak dapat berlaku absolut.

Namun, perlu kita ketahui bahwa sebuah ikatan juga memiliki sisi terang nan indah. Dimana sebuah ikatan juga dapat menginterpretasikan sebuah identitas kita sebagai salah satu makhluk yang hidup di bumi, manusia. Mungkin itulah mengapa terdapat nilai kemanusiaan yang hadir dalam benak setiap manusia di setiap zaman dan era.

Sebuah ikatan juga dapat berarti sebuah persatuan. Dimana setiap organisme berkumpul menjadi satu dalam sebuah wadah yang terorganisir. Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Islam sebagai ilmu, hal tersebut merupakan mistik sosial (social myth), dimana setiap individu berkumpul menjadi satu dalam sebuah organisasi. Individu-individu yang bersatu dalam sebuah persatuan, organisasi.

Selain itu, Benedict R. O’G Anderson dengan konsep Imagine Community-nya juga seolah mencoba menggambarkan tentang ikatan yang berarti persatuan. Dimana setiap orang yang memiliki kesamaan identitas dan nasib dalam sebuah negara bersatu menjadi sebuah komunitas yang disebut bangsa. Walau pun ikatan yang hadir di dalam benak setiap orang yang menjadi bangsa tersebut berawal dari hal yang terimajinasikan sebelumnya. Itulah mengapa menurutnya bangsa adalah Imagine Community.

Dalam Islam sebuah ikatan disebut ukhuwah. Selain diartikan sebagai ikatan, Ukhuwah juga dapat diartikan sebagai persaudaraan atau solidaritas. Setidaknya ada 3 konsep Ukhuwah. Pertama, Ukhuwah Basyariyyah yakni ikatan, persaudaraan, atau solidaritas antar personal atau kemanusiaan. Kedua, Ukhuwah Wathaniyyah yakni ikatan, persaudaraan, atau solidaritas kebangsaan. Ketiga, Ukhuwah Islamiyyah yakni ikatan, persaudaraan atau solidaritas antar umat muslim.

Beberapa hal di atas terkadang menjadi alasan yang dapat membuat kita lebih merasa ‘bersaudara’ dengan orang lain yang bukan saudara kandung kita sendiri, karena terdapat kesamaan visi, misi, identitas dan perasaan dalam diri kita dengan orang lain. Sebagaimana menurut Emile Durkheim bahwa solidaritas tercipta atas kesamaan identitas dan perasaan.

Berbicara tentang ikatan lebih jauh, setidaknya terdapat beberapa pertanyaan tentang kapan sebenarnya sebuah ikatan menjadi sesuatu hal yang mengikat diri kita? Apakah benar ada konsep kebebasan dan kemerdekaan sesungguhnya yang tak terikat? Apakah sifat independen benar-benar berarti bahwa sebuah organisasi atau setiap orang benar-benar bersifat netral dan tidak terikat oleh apapun? Dalam hal inilah setidaknya kita perlu mengkaji ‘makna’ dari sebuah ikatan, khususnya dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Karena manusia dalam hidupnya sering bersinggungan dengan banyak hal baik yang abstrak atau pun tidak. Dimana hal-hal tersebut terkadang menjadi sebuah ikatan yang mengikat diri kita sebagai manusia.

Jika kita coba pahami beberapa pertanyaan tersebut dengan menggunakan beberapa konsep ikatan sebelumnya, mungkin kita dapat menemukan jawaban kapan ikatan tersebut berlaku dan mengikat diri kita. Misalnya, “aku adalah orang Islam atau muslim”, maka dalam prinsip Islam secara tidak langsung ia terikat dengan Ukhuwah Islamiyyah atau ikatan dan persaudaraan antar muslim dalam agama Islam, begitu pun selebihnya.

Namun bagaimana ketika kita memutuskan untuk menjadi manusia yang bebas, merdeka, independen, atau bahkan atheis dalam kehidupan beragama misalnya, apakah itu berarti bahwa kita benar-benar menjadi manusia yang tidak terikat oleh apapun? Tentu tidak sama sekali.

Kita perlu ketahui manusia yang menganggap dirinya manusia yang bebas dan merdeka sejatinya ia tidak pernah mencapai kebebasan dan kemerdekaan absolut dalam hidupnya. Karena ketika dia memutuskan menjadi manusia yang bebas dan merdeka justru ia terikat oleh ikatan lain yakni kebebasan dan kemerdekaan itu sendiri. Sehingga ia perlu memaknai kebebasan dan kemerdekaan tersebut dalam hidupnya.

Begitu pula sifat independen,  dalam contoh kasus seperti organisasi yang dalam konstitusinya bersifat independen misalnya, walau pun hal ini berarti ia berdiri sendiri, tidak menjadi underbow, dan tidak terikat dengan pihak mana pun, sebenarnya ia tetap terikat dengan sifat independen itu sendiri. Karena organisasi atau individu yang independen tetap perlu memaknai sifat independen yang telah menjadi pilihannya sebagai acuan dalam tindakannya.

Atheis dalam kehidupan beragama mungkin dapat diartikan sebagai pilihan dimana kita tidak percaya akan adanya tuhan dan memilih untuk tidak bertuhan. Namun apakah dalam hal ini orang yang atheis juga tidak memiliki keterikatan dengan tuhan? Jika kita mendefinisikan tuhan merupakan sesuatu atau zat yang kita yakini memiliki kemampuan lebih untuk mengatur kehidupan dan diri kita, maka orang atheis sebenarnya akan tetap bertuhan walau pun ia menjadikan dirinya sebagai tuhan yang memiliki kemampuan yang ‘Maha’ untuk mengatur kehidupan dan dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya setiap manusia selalu memiliki sikap gelisah dalam dirinya, dimana ia terkadang membutuhkan tempat bergantung dan kemampuan yang ‘Maha’ untuk menjalani kehidupannya. Hal ini pernah dialami oleh seorang mu’allaf Amerika yang bernama Jefrry Lang, yang semula beragama Katolik, kemudian menolak semua agama monotheisme (ia menjulukinya menjadi seorang atheis), dan terakhir menjadi muslim. Menurut pengalaman dan pandangannya, ternyata atheis memiliki tuhan, yakni dirinya sendiri. Jika kita kaitkan dengan ikatan, orang yang atheis pun pada dasarnya memiliki ikatan dengan tuhan yakni ikatan terhadap dirinya sendiri sehingga ia perlu memaknai pilihan hidupnya sebagai orang yang atheis, dimana sebenarnya dirinya menjadi tuhan atas dirinya. Sehingga sebuah ikatan pada dasarnya tidak akan pernah luput dan akan terus mengikat kehidupan kita.

Dalam memahami sebuah ikatan dan tentang sifatnya yang mengikat, kita perlu menyadari bahwa kehadiran sebuah ikatan dalam hidup kita sudah menjadi barang tentu yang akan mengikat diri kita dalam kehidupan, dimana pun, kapan pun, kepada siapa pun dan dalam bentuk apapun. Ikatan tersebut terkadang bersifat abstak, namun tetap ada hal yang akan selalu mengikat diri kita dan kehidupan kita. Walau pun pada dasarnya manusia juga memiliki kebebasan untuk memilih menjadi manusia yang bebas, merdeka, dan independen dari suatu apapun, sebenarnya ia akan tetap selalu terikat kepada ikatan yang menjadi pilihan mereka. Itulah mengapa yang terpenting dalam memaknai sebuah ikatan adalah bagaimana kita memaknai ikatan tersebut sebagai pilihan yang harus kita pertanggungjawabkan, entah menjadi manusia bebas atau bahkan atheis. Karena lebih baik orang yang tersesat dan memahami akan kesesatannya dibandingkan orang yang tidak tersesat namun tidak memahami akan kebenaran atau ketidak-sesatannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s