Antara Islam dan Partai Islam (Opini)

Akhir-akhir ini kita dapat melihat sebuah masa tentang merosotnya elektabilitas dan ketertarikan masyarakat terhadap partai Islam. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa media yang memberitakan tentang kemerosotan elektabilitas partai Islam dan beberapa hasil survei yang dilakukan oleh lembaga survei beberapa waktu yang lalu, seperti yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI).

Dari hasil survei yang ada, tren partai Islam seolah menjadi tidak menarik lagi bagi masyarakat dewasa ini. Sehingga masyarakat bersikap apatis terhadap elektabilitas partai Islam itu sendiri. Kemudian hal ini menjadi sebuah asumsi yang berkembang di masyarakat. Dimana masyarakat lebih baik mengatakan “tidak” pada partai Islam dibandingkan berkata “ya” pada partai Islam. Selai itu, hal ini juga merupakan sebuah kritikan bagi partai Islam itu sendiri ketika tidak mampu mewakili aspirasi dan ekspektasi masyarakat.

Sebuah kritikan terhadap partai Islam juga pernah diungkapkan oleh Cak Nur yang menciptakan sebuah jargon “Islam yes! partai Islam No!”. Sebuah Jargon dari Cak Nur ini mempresentasikan partai Islam saat ini yang kurang progresif dalam menjawab tantangan bangsa bahkan ummat Islam di Indonesia sendiri. Selain itu, Cak Nur juga pernah menjelaskan bahwa jargon ini juga lahir karena kekecewaan beliau terhadap partai Islam yang terjebak dalam politik yang ‘murahan’. Maksudnya, partai Islam saat ini menjadi terlalu fanatik terhadap kepentingan partainya masing-masing, tetapi tidak memiliki strategi yang elegan dan apik dalam menjawab tantangan ke-Indonesiaan dimana masyarakatnya memiliki bentuk yang begitu kompleks. Sehingga, partai Islam terjebak dalam politik transaksional yang ‘murahan’, seperti kata Cak Nur.

Melihat fenomena partai Islam dan peran-serta partai Islam dewasa ini, partai Islam sudah tidak lagi menjadi sorotan bangsa dalam kegiatan partisipasi politiknya. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa fakta dan data empiris dari survei-survei yang memberikan gambaran dan penjelasan bahwa persentasi partai Islam menjadi rendah atau menurun, bahkan tidak lagi menjadi pusat representasi ekspektasi masyarakat itu sendiri.

Fakta tentang menurunnya pamor partai Islam akhir-akhir ini menjadi bertolak belakang dengan sejarah partai Islam di Indonesia itu sendiri, seperti ketika Serikat Islam (SI) misalnya yang menjadi partai Islam yang begitu besar dan mampu untuk mewakili serta menampung aspirasi dan ekspektasi masyarakat atau bangsa pada umumnya. SI merupakan partai dengan strategi cukup mapan pada saat itu dan begitu memperhatikan pluralitas yang ada di Indonesia dengan tidak menafikan kepentingan untuk mempersatukan Islam. Namun, pada akhirnya SI pun bubar sehingga relevansi kekuasaan atau pamor partai Islam di kancah Perpolitikan Indonesia mulai pudar seiring dengan munculnya beberapa partai baru yang lebih mengedepankan nasionalime.

Melihat kebelakang tentang hal di atas, dimana SI sebagai salah satu partai Islam yang memang berperan besar di masa lalu bukan berarti kita juga mesti tenggelam dalam romantisme masa lalu tersebut. Tapi setidaknya sejarah tersebut juga dapat menjadi refleksi kita bersama dan partai Islam saat ini.

Dalam penjelasan lain, dewasa ini partai Islam seolah dibuat kabur bahkan hilang identitasnya. Ketika kita melihat beberapa kasus yang muncul di tubuh partai Islam atau anggota partai Islam itu sendiri. Mulai dari kasus asusila, korupsi, dan lain sebagainya. Nilai-nilai Islam yang menjadi dasar dan perlu dijunjung seolah sudah tak nampak dalam pendangan masyarakat tentang partai Islam saat ini.

Menurut hemat saya ada beberapa faktor mengapa parta Islam saat ini tidak memiliki pamor dan tidak menjadi pusat aspirasi masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim.

Pertama faktor internal partai Islam yang terjebak dalam politik ‘murahan’ dan politik transaksional  dalam memperoleh suara atau kekuasaan. Karena terjebak dalam hal tersebut, secara otomatis idealisme partai Islam menjadi luntur di mata masyarakat. Apalagi seiring dengan beberapa kasus yang muncul di tubuhnya.

Kedua faktor eksternal yang lebih menekankan pada pengaruh luar yang mempengaruhi partisipasi politik bahkan paradigma politik ummat Islam itu sendiri. Misalnya dengan adanya fenomena Islamiphobia yang membuat takut ummat Islam itu sendiri untuk memunculkan atau menampilkan simbol-simbol Islam dalam berbagai aspek, termasuk politik. Hal ini menurut saya berimplikasi pada partai Islam di Indonesia yang ingin mengikuti trend era modern namun tidak mampu mensimbolisasikan Islam sebagai dasar. Sehingga stigma masyarakat dewasa ini terhadap partai Islam dan parta yang non-Islam sudah bukan menjadi hal yang penting dalam ruang lingkup partisipasi politik masyarakat Indonesia.

Namun, kita juga perlu ketahui bahwa tidak semua partai Islam atau anggota partai Islam terjebak dalam politik ‘murahan’ tersebut. Tetapi masih ada sosok-sosok idealis yang juga memiliki integritas terhadap partai dan agama Islam itu sendiri. Hal ini juga menjadi counter bagi kita, masyarakat umu, agar tidak terjebak pada hegemoni media.

Dengan demikian, partai Islam saat ini mungkin dapat dikatakan sudah tak lagi menarik atau impresif dalam ruang lingkup perpolitikan Indonesia, ketika nilai-nilai Islam didalamnya menjadi luntur karena modernisasi. Sehingga berpengaruh pada elektabilitas partai non-Islam yang lebih mewakili atau merepresentasikan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Itulah mengapa, jargon Cak Nur yang mengatakan bahwa “Islam Yes! Partai Islam No!” bisa menjadi sebuah referensi yang baik bagi kita yang ada dalam ruang lingkup dunia politik, untuk senantiasa mengedepankan nilai-nilai dibandingkan bentuk-bentuk dalam politik itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s