Ki Hajar Dewantara: Dari Bangsawan Menjadi Bapak Pendidikan

Oleh : M. Rifqi Syahrizal

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia memberikan gambaran kepada kita bahwa dalam melawan penjajahan untuk meraih kemerdekaan pada saat itu tidaklah mudah. Para pendekar pemberani yang mendapat gelar pahlawan harus berjuang dengan mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawa mereka sendiri demi tercapainya harapan akan kedaulatan bangsa pada saat itu. Selain itu, tidak sedikit para pahlawan yang merelakan kebangsawanannya hilang, dan menjadi seseorang yang hidup dalam kesederhanaan untuk memenuhi sebuah panggilan mulia yakni panggilan perjuangan bangsa Indonesia.

Siapa yang tidak kenal sosok seseorang yang dijuluki Bapak Pendidikan di Indonesia? Dia memiliki nama panggilan Ki Hajar Dewantara. Dia merupakan salah satu orang yang berjuang dengan jiwa dan raganya, bahkan merelakan gelar kebangsawanannya lenyap untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ia juga merupakan salah satu orang yang memang sudah seharunya dinobatkan sebagai pahlawan dalam sejarah perjuangan bangsa karena kontribusinya. Namun, dalam hal ini, kontribusi yang ia berikan bukanlah kontribusi dengan cara melakukan gencatan senjata, berperang atau beradu kuat dengan para penjajah. Tapi, kontribusi perjuangan yang diberikan oleh Ki Hajar Dewantara adalah memberikan suatu pemikiran, gambaran dan pemahaman secara kognitif dan afektif kepada bangsa tentang sebuah perjuangan menuju kemerdekaan yang diharapkan, sehingga bangsa Indonesia mampu bangkit dan berani merebut, memperjuangkan, serta mempertahankan kemerdekaannya.

Siapa sebenarnya Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat pada tanggal 2 Mei 1889. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Nama Raden Mas yang ada pada nama asli Ki Hajar Dewantara merupakan gelar kebangsawanan Jawa yang secara otomatis melekat pada seorang laki-laki keturunan ningrat dari keturunan kedua hingga ketujuh dari raja atau pemimpin yang terdekat secara silsilah. Gelar ini juga dipakai oleh semua kerajaan di Jawa yang menjadi pewaris Mataram. Sehingga gelar Raden Mas dari nama asli Ki Hajar Dewantara memberikan kesimpulan kepada kita bahwa Ki Hajar Dewantara merupakan seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan dan ia telahir sebagai seorang bangsawan.

Ki Hajar Dewantara atau Suwardi merupakan cucu dari Sri Paku Alam III, sedangkan ayahnya bernama K.P.H. Suryaningrat. Ibunda Suwardi bernama Raden Ayu Sandiyah yang merupakan buyut dari Nyai Ageng Serang, seorang keturunan dari Sunan Kalijaga.

Ki Hajar Dewantara sebagai seorang bangsawan mendapat keistimewaan dari Pemerintah kolonial Belanda untuk mendapatkan sekolah yang lebih baik daripada warga biasa. Kesempatan ini ia jalani dengan sungguh-sungguh, sehingga ia mendapat beasiswa di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam riwayat pendidikannya, Ki Hajar Dewantara bersekolah di STOVIA selama lima tahun. Namun tidak sampai lulus karena sakit dan beasiswanya dicabut.

Terkait pencabutan beasiswa Ki Hajar Dewantara di STOVIA, terdapat faktor yang bersifat politis. Pencabutan beasiswa tersebut terjadi ketika Ki Hajar Dewantara atau Suwardi mendeklamasikan sebuah sajak yang menggambarkan keperwiraan Ali Basah Sentor Prawirodirdjo, seorang panglima andalan Pangeran Diponogoro di sebuah pertemuan. Perlakuan Ki Hajar Dewantara tersebut menuai kecaman dari pihak sekolah dan belanda karena  dituduh telah membangkitkan semangat memberontak terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

Setelah keluar dari STOVIA, Ki Hajar Dewantara muda bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar. Kiprah di dunia tulis-menulis menjadi sebuah jalan dimana ia menemukan pengahayatan akan sebuah perjuangan dengan pemikiran-pemikirannya. Pada saat itu, tulisan-tulisan menarik, menggugah, bahkan kontroversial ia buat dengan penuh arti perjuangan.

Selain bergelut sebagai wartawan di beberapa surat kabar, ia juga aktif dalam organisasi sosial-politik seperti menjadi seksi propaganda Budi Utomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara pada waktu itu. Sehingga ia mendirikan Indesche Partij yang merupakan partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia dan bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Partai tersebut dibuat oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 25 Desember 1912 bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudi) dan dr. Cipto Mangunkusumo. Ketiga tokoh inilah yang kemudian dikenal dan disebut sebagai “Tiga Serangkai”.

Riwayat Ki Hajar Dewantara yang berkiprah sebagai wartawan di beberapa surat kabar dan sebagai aktivis sosial-politk menjadikan dirinya orang yang kontroversial di mata pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Contohnya ketika ia mengkritik sebuah perayaan seratus tahun kemerdekaan bangsa Belanda yang telah bebas dari penjajahan Prancis yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda dengan cara menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayayi pesta perayaan tersebut. Ia mengkritik peristiwa tersebut lewat tulisannya yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Pemerintah Belanda yang membaca tulisan dan pamflet tentang tulisan tersebut menganggap ini sebagai sumber pemberontakan terhadap mereka. Sehingga mereka membujuk Ki Hajar Dewantara untuk bersikap lunak. Walau pun pada akhirnya ia mendapat hukuman dari pemerintah kolonial.

Diasingkan ke Belanda

Akibat dari tulisan Als Ik Eens Nederlander Was, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan kepada Ki Hajar Dewantara, berupa hukuman internering (hukum buang). Kemudian setelah tahu bahwa Ki Hajar Dewantara dihukum, kedua rekannya Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo merasa bahwa rekan seperjuangan mereka telah diperlakukan secara tidak adil. Sehingga kedua rekan seperjuangannya tersebut menerbitkan tulisan yag bernada membela Ki Hajar Dewantara. Tetapi, pihak kolonial menganggap bahwa tulisan tersebut dibuat untuk menghasut agar memberontak. Sehingga Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo juga mendapat hukuman internering.

Awalnya Ki Hajar Dewantara muda dibuang atau diasingkan ke Pulau Bangka. Sementara Douwes Deker di Kupang dan Cipto Mangunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Kemudian ketiga orang ini menghendaki untuk dibuang atau diasingkan ke Negeri Belanda saja. Karena mereka menganggap bahwa di sana mereka bisa mempelajari banyak hal daripada di daerah terpencil. Akhirnya, pemerintah kolonial pun mengabulkan dan mengizinkannya. Sehingga mereka bertiga menjalani hukuman di Negeri Kincir Angin tersebut.

Sebelum berangkat untuk menjalani hukuman di Negeri Kincir Angin, Ki Hajar Dewantara menikah dengan cucu dari Sri Paku Alam III dan merupakan sepupu dari Ki Hajar Dewantara sendiri. Perempuan itu bernama Raden Ayu Sutartinah Sasraningrat. Kemudian ia dikenal sebagai Nyi Hajar Dewantara. Nyi Hajar Dewantara adalah seorang istri Ki Hajar Dewantara yang juga memiliki peran penting dalam pergerakan dan perjuangan suaminya. Bahkan pemikiran-pemikiran dan karya-karya Ki Hajar Dewantara tidak luput dari bantuan dan dukungan sang istri. Sang istri pun ikut tinggal di Belanda bersama Ki Hajar Dewantara sekaligus menjalani bulan madu pada masa pengasingan di Belanda. Kemudian, di Belanda pula lahir putra dan putri dari Ki Hajar Dewantara, yaitu Ki Subroto Haryomataram dan Ni Sutapi Asti.

Pada masa pembuangan di Belanda, Ki Hajar Dewantara atau Suwardi mempergunakan kesempatan tersebut untuk mendalami ilmu tentang pendidikan dan pengajaran. Walau demikian, kehidupan yang dijalani oleh keluarga Ki Hajar Dewantara cukup memprihatinkan karena mengingat bantuan biaya hidup yang diberikan oleh pemerintah kolonial hanya untuk satu orang. Sehingga Ki Hajar Dewantara berusaha untuk menghidupi keluarganya sekaligus menabung untuk biaya pulang ke Tanah Air dengan cara hidup sehemat mungkin.

Untuk tetap dapat memenuhi segala kebutuhan dalam masa pengasingan, Ki Hajar pun harus bekerja sebagai jurnalis guru Taman Kanak-kanak (Frobel School). Terkadang keprihatinan akan kondisi ekonomi dan kebutuhan pun melanda Ki Hajar dan keluarga. Namun demikian, ia dan keluarga tetap bisa menjalani masa pembuangan dengan baik. Sehingga pada 1919, Ki Hajar dan keluarga berhasil mengumpulkan uang untuk kembali ke Indonesia.

Hukuman pengasingan di negeri kolonial menjadi sebuah perjuangan dan cerita dalam keprihatinan hidup seorang Ki Hajar. Namun hal tersebut tidak membuat ia jera untuk tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Justru di Belanda pula, Ki Hajar mulai menggagas kemerdekaan Indonesia melalui pembangunan bidang pendidikan nasional. Sehingga ia menghasilkan pemikiran-pemikiran yang mengugah hasrat nasionalisme serta pikiran tentang pentingnya pendidikan dan pengajaran nasional. Disinilah awal ketika Ki Hajar menyebarkan dan mengembangkan pemikirannya tentang pendidikan di Indonesia sehingga saat ini ia dikenang sebagai Bapak Pendidikan Indonesia yang telah meninggalkan atribut-atribut kebangsawanannya untuk berjuang demi bangsa dalam mengembangkan dan memajukan bidang pendidikan dan pengajaran di Indonesia.

Setibanya di Indonesia setelah mengalami pengasingan dan belajar di negeri kolonial Belanda, Ki Hajar mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan yang ia anggap sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Sehingga ia bersama rekan-rekan seperjuangannya mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, yaitu National Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 juli 1922. Perguruan tinggi tersebut memiliki konsep pendidikan yang benar-benar bersifat pribumi, yakni non-pemerintah dan non-Islam. Konsep pendidikan tersebut memadukan gaya Eropa yang modern dan seni-seni Jawa yang tradisional.

Melepas Kebangsawanan Dan Menjadi Bapak Pendidikan

Ketika genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, ia berganti nama dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Nama kebangsawanannya ia tinggalkan pada 23 Februari 1928. Nama Ki Hajar ditemukan dalam rangkaian-rangkaian diskusi yang sering diikutinya. Ia diakui oleh rekan-rekannya sebagai orang yang paling mahir dalam tema pendidikan, keguruan dan kebudayaan. Sehingga, dari diskusi-diskusi yang Ia ikuti, Suwardi memiliki nama lain yakni Ki Ajar dan kemudian menjadi Ki Hajar yang dimenggantikan nama bangsawannya pada saat itu. Pergantian nama tersebut ia maksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat dan seluruh elemen masyarakat, baik secara fisik, pikiran maupun hatinya. Dengan mengganti namanya, Raden Mas Suwardi Suryaningrat telah membuat pilihan tegas pada dirinya sendiri, untuk membuang dan melepaskan atribut kebangsawannya demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia di bidang pendidikan dengan nama baru, yakni Ki Hajar Dewantara.

Sepanjang perjalanan hidup dan perjuangan Ki Hajar ketika menjadi aktivis, diasingkan ke Belanda, hingga pulang kembali ke Indonesia, Ki Hajar melakukannya dengan penuh rasa perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsa. Hal tersebut dilakukan dalam mengawal impiannya tentang bangsa Indonesia yang menjadi bangsa yang merdeka dari segala macam bentuk penjajahan.

Dalam usaha untuk mengawal impian mulia tersebut, Ki Hajar menggunakan bidang pendidikan sebagai media agar bangsa ini dapat menjadi bangsa yang merdeka dan bermartabat. Bagi Ki Hajar, pendidikan bukanlah tujuan, melainkan media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batin. Karena pendidikan adalah mutu bangsa agar cerdas dan berakhlak mulia tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, status ekonomi dan sosial, yang didasarkan pada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Ki Hajar Dewantara wafat 26 April 1959. Sepanjang riwayat hidupnya, Ki Hajar merupakan sosok yang merakyat dan humanis dalam kehidupan bermasyarakat. Ia keras tapi tidak kasar. Ia juga sosok nasionalis sejati yang selalu berorientasi pada kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Pemimpin yang konsisten dalam setiap ucap, gerak dan langkahnya. Ia berani dan setia. Sehingga ia bisa menjadi salah satu orang yang bersahaja di jamannya.

Demikianlah kisah singkat tentang perjalanan, perjuangan dan pengabdian seorang yang berani menentang ketidak-adilan dan penindasan serta menentang sebagai bentuk diskriminasi. Selain itu, beliau juga merupakan orang yang rela berkorban. Ia Mengorbankan Kebangsawanannya untuk kemerdekaan bangsa yang asasi melalui usahanya di bidang pendidikan. Sehingga ia dinobatkan menjadi “Bapak Pendidikan” di Indonesia.

Sosok Ki Hajar Dewantara setidaknya dapat menjadi refleksi kita bersama, khususnya untuk para pejabat atau para elite yang seolah menjadi bangsawan saat ini, bahwa Ki Hajar Dewantara yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa melaui jalur pendidikan, memberikan pesan kepada kita untuk terus melanjutkan misi-misi perjuangannya dalam bidang pendidikan. Selain itu kita juga perlu merefleksikan pengorbanannya ketika ia memilih untuk melepas segala atribut-atribut ‘elite’ atau kebangsawanannya demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Hal ini patut diteldani oleh kita semua khususnya para kaum ‘elite’ saat ini, bahwa perjuangan dan pengabdian kepada bangsa butuh pengorbanan yang lebih, tidak hanya dengan waktu, pikiran dan tenaga. Tetapi juga dengan harta, jiwa, raga, bahkan nyawa. Sehingga tujuan perjuangan dan mimpi Ki Hajar Dewantara sekaligus mimpi kita bersama tentang bangsa yang merdeka lahir dan batin dapat terwujud.

“Kemajuan sebuah bangsa terletak pada pendidikan dan para generasi bangsa itu sendiri!”

“Belajar seumur hidup, belajar dari kehidupan!”

Sumber bacaan :

Suprapto Rahadjo, Ki Hajar Dewantara: Biografi Singkat 1889-1959, Garasi, Yogyakarta, 2010

Darsiti Suratman, Pahlawan Nasional: Ki Haja Dewantara, 1977

“Salam Inspirasi!”

2 thoughts on “Ki Hajar Dewantara: Dari Bangsawan Menjadi Bapak Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s