Do’a Di Jakarta

Tuhan Yang Maha Esa
Alangkah kejamnya melihat hidup yang tergadai
Pikiran yang dipabrikan
Dan masyarakat yang diternakan

Malam rebah dalam udara yang kotor
Dimanakah harapan akan kita kaitkan
Bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan

Dendam di asap di kolong yang basah
Siap untuk terseret dalam gelombang edan
Perkelahian dalam hidup sehari-hari telah menjadi kewajaran
Pepatah dan petitih tak menyelesaikan masalah
Bagi hidup yang bosan, terpenjara tanpa jendela

Tuhan Yang Maha Paham
Alangkah tak masuk akal
Jarak selangkah yang berarti 40 tahun gaji seorang guru
Yang memisahkan sebuah halaman bertanam-tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan bisik

Hati manusia telah menjadi baja
Bagai dashboard yang tak acuh
Panser yang angkuh
Traktor yang dendam

Tuhan Yang Maha Rahman
Ketika air mata telah menjadi gombal
Dan kata-kata menjadi lumpur yang becek
Aku menoleh ke utara dan ke selatan
Dimanakah kamu?
Dimanakah tabungan keramik untuk uang logam?
Dimanakah catatan belanja harian?
Dimanakah peradaban?

Ya Tuhan Yang Maha Agung
Harapan kosong
Optimisme hampa
Hanya akal sehat dan daya hidup
Menjadi peganganku yang nyata

“W.S. Rendra”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s