Fenomena The Innocence of Mulims; Untukmu Perindu Suara Persatuan

    

Saudaraku, saat ini kita berada di sebuah era yang tak tahu siapa pelopor sesungguhnya dan tak tahu siapa yang menjadi ‘pilot’ dari era ini. Selain itu, mungkin setiap orang yang ada di dunia ini tak tahu, era ini  sebenarnya berpihak kepada siapa, ke golongan yang mana, ke negara yang mana, atau peradaban yang mana.

Ya, era globalisasi adalah salah satu nama dari beberapa nama yang sering disandingkan dengan era saat ini. Sebuah era dimana dunia ini menjadi Small World, dunia yang sempit. Hal ini dapat dilihat ketika suatu kejadian di tempat yang berbeda dapat kita ketahui dan saksikan dengan ‘instant’ atau mudah. Bahkan kejadian, fenomena atau peristiwa yang diberitakan kepada kita atau yang dapat kita ketahui melalui media-media seolah mampu mempengaruhi proses kehidupan, baik sedikit demi sedikit atau secara keseluruhan. Misalnya, fenomena budaya K-POP yang baru-baru ini menjadi trend topic dan trend setting di kalangan masyarakat dunia, khususnya remaja. Selain itu ada juga fenomena tentang film The Innocence of Muslims yang baru-baru ini menuai kontroversi di dunia, khususnya ummat Muslim di seluruh dunia.

Berangkat dari beberapa penjelasan di atas, pada kesempatan ini aku ingin bercerita sedikit tentang rasa yang tersumbat dalam benak ini. Tentang sebuah pandangan dan juga hal lain yang tak sengaja aku sadari dalam sebuah fenomena kontroversial yang baru saja terjadi, yakni fenomena film The Innocence of Muslims yang melanda ummat Muslim di seluruh penjuru dunia.

Sering sekali kita mendengar kata bijak yang menjelaskan bahwa “ada hikmah dibalik semua peristiwa”. Aku berharap kata bijak tersebut juga benar-benar berlaku dalam peristiwa yang kontroversial ini. Sehingga kita dapat menemukan beberapa hikmah yang ada dalam setiap peristiwa atau fenomena, termasuk yang kontroversial seperti ini.

Aku tidak ingin menjelaskan apa yang ada dalam film The Innocence of Muslims, karena aku yakin setiap orang memiliki pandangan berbeda dan kondisi yang berbeda ketika menafsirkan isi atau kandungan dalam film tersebut. Tapi, aku hanya ingin berbagi hal yang mungkin perlu untuk kita sadari dan kita cermati dari fenomena kontroversial ini, dengan pendekatan intuisi. Sehingga kita dapat bersama-sama menyadari dan menemukan serpihan hikmah atau salah satu hikmah dari peristiwa ini. Aku juga ingin mengajak kita semua untuk menyadari bahwa ada hal yang jarang terjadi kembali di dunia akhir-akhir ini, yakni suara persatuan ummat Muslim di seluruh dunia. Suara persatuan ummat yang diberitakan kepadaku terakhir kali adalah Suara persatuan yang diberitakan kepadaku atau yang aku ketahui melalui beberapa literatur, buku, cerita dan berita-berita masalalu atau sejarah. Suara persatuan itu pun seolah hanya benar-benar ada ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam masih hidup dan memimpin ummat ini. Setelah masa itu, banyak perpecahan di tubuh ummat yang terjadi dan disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari persoalan politik sampai persoalan prinsip dan ideologi.

Fenomena kontroversial film The Innocence of Muslims di satu sisi memang membuat ketidaknyamanan bagi setiap orang yang mengaku seorang Muslim di seluruh penjuru dunia. Namun, di sisi lain ternyata memiliki hikmah yang luar biasa. Karena fenomena tersebut membuat semua bangkit dan bersatu dalam satu panji, dan satu suara untuk menolak peredaran film The Innocence of Muslims. Alangkah indahnya jika dalam setiap persoalan keumatan dihadapi secara bersama-sama seperti ini, dengan satu suara, satu panji melawan musuh bersama tanpa adanya intimidasi dalam satu tubuh ini.

Aku sempat berpikir, lebih baik fenomena kontroversial seperti ini terus muncul dan hadir di tengah-tengah ummat, agar suara persatuan itu juga terus muncul dari ummat serta mengikis perbedaan-perbedaan yang hadir yang merupakan warisan masa lalu. Sehingga kita mampu memaknai makna sesungguhnya tentang ummatan waahidatan dan sebagai khairu ummah dari ummat yang satu tersebut.

Di era globalisasi ini, terkadang segala bentuk provokasi menyayat diri ummat yang mengharapkan kedamaian. Kejahatan media yang hegemonik seolah membuat kerdil hati, pikiran dan langkah ummat. Namun, mungkin saat ini memang lebih baik seperti itu. Mungkin saat ini lebih baik jika kesesatanlah yang menyadarkan dan menunjukan pada yang Haq, keburukan yang menunjukan pada kebaikan, peperangan yang menunjukan pada kedamaian, perdebatan yang menunjukan pada kemufakatan, atau bahkan pergolakan dan permasalahanlah yang menyadarkan serta menunjukan pada sebuah suara persatuan. Sehingga kita semua dapat memaknai suara persatuan yang tentunya dirindukan oleh kita yang merindukannya, di tengah-tengah era yang tanpa berarah dan di tengah-tengah gonjang-ganjing permasalahan yang hadir saat ini.

Saudaraku, mari kita kibarkan panji-panji untuk membela ummat ini. Mari kita sadari bahwa banyak persoalan di tubuh ummat ini. Persoalan yang datang pada ummat dan mesti diselesaikan oleh kita yang merasa sebagai ummat ini. Mari buat perubahan tanpa terprovokasi, dengan cara yang baik walau beragam. Karena sejatinya perubahan dapat terjadi jika kita mengusahakannya bersama-sama. Sehingga catatan kecil ini dapat menjadi suara yang besar, yang bersatu dalam sebuah persatuan yang kita rindukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s