Sebuah Tantangan: The Clash of Civilizations

Sejak perang dingin berakhir terjadi perubahan yang begitu signifikan dalam kajian-kajian Islam di dunia. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas keagamaan ummat Islam yang mulai menjadi sorotan di dunia. Kemudian, pada tahun 1993 Samuel Huntington seorang pengamat Hubungan Internasional menerbitkan sebuah artikel (thesis statement) tentang dunia Islam dan dunia Internasional (Hubungan Internasional), lebih jelasnya tentang peradaban Islam dan Barat. Artikel tersebut berjudul “The Clash of Civilization” yang juga dibukukan olehnya  dengan judul “The Clash of Civilization : Remaking of World Order”. Penjelasan di dalam artikel dan buku tersebut tidak lain berfokus pada pembahasan tentang benturan peradaban yang terjadi pasca perang dingin, di mana efek globalisasi di segala bidang mulai timbul di seluruh penjuru dunia. Namun, tibul sebuah pertanyaan mendasar, siapa sebenarnya pihak yang berada dibalik era globalisasi itu sendiri?

Benturan peradaban yang diungkapkan oleh Samuel Huntington mungkin bukan pertama kalinya terjadi di dunia ini. Benturan kebudayaan dan peradaban tersebut juga pernah dialami dan dilewati oleh ummat Islam sejak zaman dulu, entah ketika zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, Khalifaur Rasyidin, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’iin dan lain-lain. Sudah banyak sekali benturan-benturan peradaban yang terjadi pada masa itu, baik  dengan latarbelakang kepentingan, kekuasaan politik, bahkan ideologi. Namun, untuk saat ini di era globalisasi, tantangan peradaban Islam sudah begitu kompleks, mulai dari persoalan di bidang politik, ekonomi atau sosia;-budaya. Hal ini telah menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar di tubuh ummat Islam. Sehingga perlu adanya persiapan, pemahaman dan pemaknaan yang dilakukan oleh ummat Islam sendiri secara mapan, agar dapat memperjelas posisi Islam yang seolah terombang-ambing pada saat ini di tengah era globalisasi yang tak tahu siapa produser dan aktor di balik ini semua.

The Clash of Civilization atau benturan peradaban, setidaknya dapat menjadi bahan refleksi diri bagi ummat, untuk dapat menelaah lebih dalam soal apa yang telah digambarkan oleh Samuel Huntongton. Selain itu, agar ummat sedikitnya dapat memiliki wacana untuk menjawab tantangan kekinian dan masa depan peradaban dunia Islam, termasuk The Clash of Civilization, jika benar adanya.

Memang pada kenyataannya benturan peradaban antara Islam dan Barat memang terjadi, baik secara langsung ataupun tidak langsung di era globalisasi dan dalam kehidupan kita, entah dalam kehidupan bernegara, beragama, bermasyarakat bahkan dalam aktifitas kita sehari-hari. Walaupun The Clash of Civilization ini menimbulkan pro dan kontra baik di kalangan dunia Islam maupun Barat. Namun, tidak ada salahnya jika ummat berusaha untuk menelaah lebih dalam sehingga memiliki langkah antisipatif kedepan serta dapat memahami segala bentuk tantangan yang ada di tubuh ummat itu sendiri, dengan melakukan kanalisasi terhadap tantangan yang sudah jelas adanya.

Dalam artikel yang merupakan thesis statement yang ditulis oleh Samuel Huntington sebenarnya adalah sebuah bentuk pemberitahuan atau lampu kuning kepada Barat sendiri terhadap Islam. Maksudnya adalah untuk lebih berhati-hati pada peradaban Islam karena peradaban Islam-lah ancaman yang digambarkan di masa depan. Jika mereka, dalam hal ini Barat, bisa menenggelamkan kebudayaan dan peradaban Islam bahkan menguburnya, berarti disanalah saat dimana era globalisasi terkuasai sepenuhnya.

Pada saat ini di kalangan masyarakat dunia Islam seolah diawasi dan sorot dengan tajam, sehingga Islamophobia pun seolah telah hampir mendunia. Dalam hal ini beberapa kalangan menganggap radikalisme ummat Islam seolah menjadi bahaya yang perlu untuk selalu diawasi di era globalisasi ini. Semua berawal dari peristiwa 11 September yang tentunya mengguncang pendengaran setiap orang di dunia, pasca peristiwa tersebut dunia Islam mendapat sorotan tajam dari seluruh dunia. Hal tersebut seolah menjadi citra buruk dan menimbulkan dampak yang luarbiasa bagi negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim. Indonesia misalnya, pernah dipaksa Amerika untuk segera menangkap orang-orang yang dituduh teroris dan mengesahkan Undang-Undang Anti-Terorisme, pasca peristiwa tersebut. Sehingga Islamophobia menjadi benar-benar hadir di dalam benak masyarakat dunia.

Selain itu, jika kita amati pencitraan buruk di era globalisasi dari barat terhadap dunia Islam tidak hanya berdampak pada masyarakat dunia. Namun ternyata, hal tersebut juga berdampak pada dunia Islam itu sendiri. Ummat seolah mengalami phobia pada dirinya sendiri. Sehingga, banyak terjadi perpecahan pemahaman di dunia Islam itu sendiri, mengenai beberepa aspek dan bidang yang ada pada Islam dan ummat Islam. Kemudian hal tersebut juga merupakan salah satu penyebab munculnya sekte-sekte baru dengan pemikiran, pemahaman dan landasan baru dalam Islam itu sendiri. Ummat seolah terpecah-pecah menjadi beberapa bagian baru. Walaupun hal ini pernah terjadi pasca wafatnya Rasulullah SAW namun peristiwa ini seolah menjadi ekstrim jika muncul di tengah-tengah globalisasi. Semua itu dikarenakan tuntutan global yang berusaha mengglobalisasikan semua hal termasuk agama. Seperti adanya sekularisme dalam agama sebagai salah satu tuntutan global. Dalam hal ini penulis juga tidak sepakat dengan adanya sekularisme dalam agama apalagi dalam Islam. Namun, kita perlu benar-benar memahami tuntutan global yang seolah menuntut untuk berpindah paham menjadi sekularisme tersebut. Sehingga kita tetap menjadi diri sendiri sebagai ummat Islam dan mampu menghadapi tuntuntan global dengan tidak menjadi orang lain. Dalam hal ini, Cak Nur dalam teologi Inklusifnya yang ditulis oleh Sukidi, menjelaskan bahwa sekularisme dalam Islam jelas tidak diperbolehkan adanya karena dapat merubah hal-hal yang seharusnya tak boleh dirubah dalam Islam. Hal ini termasuk hakikat dan syari’at yang telah seperti apa adanya dalam Islam yang tersirat ataupun tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadist. Kemudian, lain halnya dengan ‘sekularisasi’ dalam Islam yang merupakan cara untuk dapat memposisikan diri di era global ini, tapi tetap dengan jati diri sebagai ummat Islam. Jadi, sekularisasi dalam Islam baik adanya asal tetap mempertimbangkan hal-hal lainnya yang merupakan landasan ideal Islam, namun tidak jika sekularisme dalam Islam karena sekularisme merupakan paham yang tentu akan bertolak belakang atau berbenturan dengan landasan ideal Islam.

Melihat realita, ummat saat ini sudah semakin heterogen dalam esensi maknanya sebagai ummat, entah itu yang masih dalam koridor landasan ideal Islam atau yang benar-benar menyimpang. Kemudian daripada itu, dalam Islam sendiri mengakui keberadaan heterogenitas ummat, seperti yang dijelaskan dalam beberapa hadist bahwa, pada akhirnya ummat akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya 1 dari semua itu yang benar-benar diterima dan diridhai oleh Allah SWT yaitu “Al-jama’ah” dan 72 sisanya masuk neraka. Melihat penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya 1 golongan ummat yang benar-benar diridhai Allah SWT. Walaupun kita tidak dapat mengetahui apakah golongan yang kita tempati sekarang merupakan golongan yang ‘satu’ tersebut atau bukan.

Peradaban Islam yang digambarkan dalam The Clash of Civilizations, seolah membuat was was dunia barat atau peradaban barat itu sendiri. Namun, hal ini mungkin benar-benar terjadi jika kita sebagai ummat Islam mampu bersatu melawan segala bentuk kemungkaran, serta memahami bahwa kita berawal dari ‘satu’. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 213 menjelaskan bahwa kita sebagai umat manusia adalah satu dan Allah mengutus Nabi-nabi sebagai pemberi peringatan dan kabar, serta menurunkan kitab-kitab kepada mereka sebagai petunjuk. Kemudian dalam Al-Qur’an Surat Al-imran ayat 110 dijelaskan dan ditegaskan bahwa ummat Islam adalah umat terbaik bagi umat manusia. Jika hal tersebut benar-benar diindahkan dan dimaknai oleh ummat, mungkin ketakutan yang terjadi di kubu barat bisa benar-benar terjadi, sehingga Islam mampu mereposisikan di era globalisasi untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan kedepan.

Dari beberapa tantangan yang hadir, ummat Islam sebagai umat terbaik, tentunya harus dapat menjawab tantangan-tantangan kekinian dan dapat mengatasasi malaise yang melanda ummat dengan saling berijtihad, berikhtiar dan terus berusaha menentukan posisi peradaban islam serta mewujudkannya di era globalisasi ini.

Dalam hal ini, ummat mempunyai tugas untuk senantiasa mewujudkan peradaban Islam yang diharapkan tanpa adanya intimidasi di dalam satu tubuh. Namun, justru kekaburan identitas dialami oleh ummat. Semua itu dapat dilihat dan tercermin dalam the way of life yang dijalani ummat setiap harinya. Campuran dari segala gaya dan kebiasaan mencerminkan kekaburan pengertian tentang siapa kita sebenarnya.

Kekaburan identitas tersebut salah satunya disebabkan oleh media, karena selain menampilkan pemberitaan-pemberitaan, media saat ini juga sering sekali menampilkan gaya hidup masa kini yang terkesan glamor dan hedonis, termasuk beberapa produk yang praktis untuk digunakan dalam era serba modern atau tontonan yang mengarah pada hedonisme. Itulah mengapa media menjadi salah satu faktor terbesar dalam era globalisasi untuk bagaimana mewujudkan suatu peradaban.

Bicara tentang media, dalam disiplin ilmu sosiologi media pun menjadi aspek penting, yakni sebagai Agent of SocializationMass Media dalam kenyataannya ternyata memiliki peran penting untuk bagaimana membentuk social paradigm di masyarakat. Karena  dalam media pada dasarnya terdapat ideologi didalamnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Douglas Kellner dalam bukunya yang berjudul Budaya Media. Selain itu, media jugalah yang dapat membuat The Clash of Civilizations menjadi sebuah tantangan ummat.

Mengingat beberapa penjelasan diatas, peran media dan seperti apa media sebenarnya juga menjadi salah satu hal penting untuk dipahami secara mapan demi mewujudkan kebudayaan dan peradaban itu sendiri, khususnya mewujudkan kebudayaan dan peradaban Islam yang mapan serta terposisikan secara jelas di era globalisasi ini.

Maka sebelum The Clash of Civilizations yang lebih ekstrim benar-benar terjadi, kita sebagai ummat Islam perlu untuk menuntaskan terlebih dahulu tantangan yang ada di tubuh ummat. Kemudian peran-peran para intelektual-intelektual dan pemimpin Islam perlu dipertajam, karena di bahu merekalah terdapat tugas maha berat. Adapun tugas maha berat yang dihadapai oleh intelektual-intelektual dan pemimpin Islam, menurut Isma’il Raji al Faruqi adalah menuangkan kembali keseluruhan khazanah pengetahuan ummat manusia menurut wawasan Islam (Islamic World View) yang sebenar-benarnya kepada seluruh kalangan masyarakat. Sehingga masyarakat menengah ataupun masyarakat awam sedikitnya dapat memilik pandangan Islam untuk melihat suatu persoalan dan peristiwa. Maksud tugas tersebut adalah untuk dapat kembali menghegemoni dunia ke-pendidikan berdasarkan Islamic Word View dan memberikan penyadaran bahwa pengetahuan-pengetahuan yang ada saat ini, hampir semuanya merupakan kiprah ummat Islam di masa lampau. Namun, hal ini tentu tidak akan tercapai jika umat Islam yang plural tidak memiliki kesadaran seutuhnya akan pendidikan yang ternyata dapat mempengaruh berbagai aspek kehidupan. Maka sense of belonging terkait hal tersebutlah yang perlu hadir dikalangan umat Islam sebelum The Clash of Civilizations yang lebih ekstrim benar-benar terjadi. Kita tidak tahu hal tersebut akan datang dalam bentuk seperti apa, entah perang fisik, perang pemikiran atau hal yang lain. Oleh karenanya kita perlu membenahi diri menuju perubahan yang lebih baik, ummat Islam yang lebih baik, dan peradaban Islam yang lebih baik.

“….إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ….”
“…..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri……” (Q.S. Ar Ra’d : 11)

Wallahu a’lam bishawab…

One thought on “Sebuah Tantangan: The Clash of Civilizations

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s