Pesan Damai Dari Ahmad Wahib

Aku akan coba perkenalkan kepada kalian yang belum tahu dan mengenal tentang siapa sosok Ahmad Wahib. Bagiku ia adalah sosok luar biasa yang hadir dalam perjalanan pemikiran Islam di Indonesia. Pesan-pesannya tentang toleransi dan kedamaian seolah menggugah hati dan pikiran setiap orang yang membacanya. Semua karya-karyanya seolah menggambarkan kepada kita bahwa kedamaian adalah hal yang begitu indah jika tercipta. Selain itu, sebagai seorang Muslim, ia juga mampu menggambarkan secara puitis, modern dan menarik bahwa Islam adalah agama yang damai dan cinta akan kedamaian. Mudah-mudahan ini merupakan salah satu dari berjuta-juta inspirasi yang mampu menginspirasi kita untuk memahami hakikat kedamaian itu sendiri.

AHMAD Wahib lahir di Sampang, Madura, pada 1942. Wahib tumbuh dewasa dalam lingkungan yang kehidupan keagamaannya sangat kuat. Ayahnya adalah seorang pemimipin pesantren dan dikenal luas dalam masyarakatnya. Tapi ia juga adalah orang yang berpikiran luas dan terbuka, yang mendalami secara serius gagasan pembaharuan Muhammad Abduh. Ia menolak objek-objek kultus yang menjadi sesembahan para leluhurnya. Objek-objek ini sangat populer dalam tradisi rakyat Madura, seperti tombak, keris, ajimat, dan buku-buku primbon. baca selengkapnya…

dibawah ini adalah beberapa kutipan dari Ahmad Wahib yang inspirasional dan merupakan pesan damai bagi kita semua yang menginginkan kedamaian :

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” (Catatan Harian Ahmad Wahib 9 Oktober 1969)

“Bagi kita, teis dan ateis bisa berkumpul.
Muslim dan Kristiani bisa bercanda.
Artis dan atlit bisa bergurau.
Kafirin dan Mutaqin bisa bermesraan.
Tapi, pluralis dan anti-pluralis tak bisa bertemu”.

“…Ada baiknya kita ingat bahwa mengucapkan “assalamu’alaikum” tidak terus berarti Islam, mengaji yang keras hingga didengar orang banyak tidak terus berarti Islam, menulis dengan arab tidak terus berarti Islam, sok ikhlas, sok khusyuk tidak terus berarti Islam, mengobral ayat-ayat Al-Qur’an tidak terus berarti Islam, pidato pakai shalawat tidak terus berarti Islam. Demikian pula menyerang gadis pakai kerudung tidak terus berarti modern, meremehkan pentingnya shalat tidak terus berarti modern, membela ateisme tidak terus berarti modern, mengkritik umat Islam tidak terus berarti modern, membela orang-orang berdansa tidak terus berarti modern…”

Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut HAMKA, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subkhi, Islam menurut yang lain-lain. Dan terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya.
Bagaimana? Langsung studi dari Qur’an dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang-orang lain pun akan beranggapan bahwa yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah Islam menurut Allah. Aku harus yakin itu! (Catatan Harian Ahmad Wahib 28 Maret 1969)

Masih banyak kutipan catatan inspirasional dari sosok Ahmad Wahib (disini) yang menjadi sebuah prasasti berharga yang perlu kita indahkan. Sehingga pesan damai yang selalu disampaikan beliau dalam catatannya bukan hanya sekedar pesan, namun realita yang damai.

Ditengah-tengah kondisi masyarakat yang begitu kompleks saat ini. Terkadang Persimpangan jalan dan pilihan membuat ‘kita’ semakin kompleks dan beragam, namun perlu kita ketahui serta tanamkan dalam diri kita bahwa toleransi dapat membuat ‘kita’  hidup dalam keberagaman, demi menuju satu kata, “kedamaian”. Selain itu, kita juga perlu sadar dan yakin bahwa, When the power of love is greater than the love of power, the world will know PEACE.

“Mari menebar cinta dan toleransi!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s