Siapa aku?

Semua berawal dari impian-impian yang hadir dalam benakku, yang kadang menjadi kesenangangan bahkan tantangan bagiku. Semua impian tersebut bagaikan berputar-putar dalam otak kananku dan mencoba untuk keluar menjadi kenyataan hidupku. Selain itu, Impian-impian tersebut seolah mengembalikan diriku ke masa lampau, dimana aku belum mampu menjadi sosok yangmampu mewarnai sekitar, dimana aku belum mampu bermain lepas dengan angin-angin yang bertiup kesana kemari, dimana aku belum mampu menanggapi beberapa tanda tanya yang berloncatan di setiap ruang yang ada dalam hidup ini, dan dimana aku masih senang berfantasi dengan mainan dan gambaran-gambaran menarik yang melintasi inderaku. Impian-impian itu juga seolah membawa diriku ke masa depan dan melintasi waktu, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun. Aku membayagkan menjadi orang tua yang sedang mencoba menikmati pencapaian yang indah atas impian-impianku di masa depan tersebut. Aku seolah menikmati bayangan menjadi seorang yang aku impikan dan terlintas dalam catatan-catatan indah hasil dari otak kananku. Aku pun seolah dibawa oleh impianku menuju masa-masa terakhir dalam hidupku, ketika aku hanya bisa duduk meratapi keramaian dan tertidur di kasur yang empuk, ketika aku sudah diselimuti oleh keriput-keriput yang menempel pada tubuh, dan ketika aku akan tertidur panjang serta meninggalkan wasiat-wasiat indah untuk anak-anakku kelak.

Inilah aku, yang mencoba menjelajah dengan pikiran dan impianku ke masa lampau dan masa depan, untuk menemukan sebuah arti dari aku. Aku yang duduk terdiam merenung dan kadang berlari-lari kesana kemari serta berkata kepada setiap orang, pohon-pohon rindang, burung-burung terbang, dan kepada semuanya termasuk berkata pada diriku, “SIAPA AKU?”.

Setiap hari, aku selalu mencoba menyelami diri dan mencoba melihat lebih dalam setiap sela-sela terumbu karang dalam samudera hidup ini untuk dapat mampu menemukan gambaran seperti apa aku. Aku kadang bergumam dan bertanya-tanya ketika berjalan-jalan di atas pijakan di bumi ini, “apakah aku seperti ini? Itu? kamu? Dia? Atau mereka? Atau bahkan aku berbeda dengan semuanya?”. Walaupun sebenarnya, aku juga terkadang memiliki keinginan untuk menjadi seperti ini, itu, kamu, dia, mereka, atau apapun, tapi aku merasakan dan yakin bahwa ada sisi dimana diri ini tetap menjadi aku dan tetap sebagai aku.

Dalam hidup yang aku jalani, aku merasa seperti memiliki hubungan erat dengan keseluruhan yang ada di alam ini. Hal tersebut membuat aku berpikir kembali tentang diriku sebagai aku. Sehingga terkadang aku membandingkan diriku dengan hal-hal yang aku ketahui bahkan tak pernah aku ketahui secara nyata.

Aku pernah mendengar sebuah ungkapan yang cukup menarik, “Aku adalah apa yang aku pikirkan”. Entah dari mana asal ungkapan tersebut, yang pasti ungkapan itu seolah menjelaskan sidikitnya tentang siapa aku? sehingga aku dapat menemukan kesimpulan kecil dari ungkapan tersebut bahwa apapun yang aku pikirkan tentang diriku, sesuatu dan semua yang ada dalam hidupku adalah aku yang tercipta secara nyata dalam hidupku.

Menyelami hal-hal yang kutemui tentang aku, aku pun tersadar bahwa aku memiliki perbedaan dan persamaan dengan hal atau zat lain. Aku tersadar bahwa aku bukanlah ‘AKU’, aku bukanlah Mr. Rightyang menjadi gudang dari kebenaran, aku pun bukan Mr. Wrong yang selalu melakukan hal yang cacat atau salah dalam kehidupan ini. Namun di sisi lain, aku terkadang mampu menggambarkan tentang aku seperti ketika aku duduk diam di sudut kelas, dihadapan laptop, dengan rambut lurus menyamping agak panjang dan itulah aku.

Aku pun pernah menemukan ungkapan tentang eksistensi atau keberadaan ‘aku’, dari seorang filusuf prancis yang mengatakan, “Aku berpikir, maka Aku ada”. Menurutku ungkapan tersebut memiliki hubungan dengan ungkapan sebelumnya bahwa eksistensi aku dan gambaran tentang aku bermuara pada satu sumber, pikiran.

Aku pernah berbicara di depan publik dengan mengatasnamakan kelompok tertentu. Kemudian ketika itu aku berbicara sendiri di depan, tapi entah mengapa identitas ke-aku-anku menjadi lenyap sehingga kata ‘aku’ yang aku ucapkan menjadi tergantikan oleh kata ‘kita’. Jubah ke-aku-anku dilepas dan berubah menjadi kita yang dapat mencakup aku, kamu, dia, bahkan mereka. Sehingga penjelasan tentang ‘kita’ menurutku juga dapat menjelaskan tentang aku dan menemukan ‘siapa aku?’.

Jika kita tidur
kita adalah pengantuk bagi-Nya
dan jika kita terbangun 
kita adalah tangan bagi-Nya
 
Jika kita menangis
kita adalah awan-Nya yang penuh air mata
dan jika kita tertawa
kita adalah cahaya bagi-Nya saat itu
 
Jika kita marah dan bertengkar,
itu adalah cermin kemurkaan-Nya
dan jika kita berdamai dan memaafkan,
itu adalah cermin cinta-NYA… 
 
siapakah kita di dunia yang rumit ini…?
(Maulana Jalaludin Rumi)

Semua hal yang aku temui seolah mengarahkan diriku untuk bermuara dalam sebuah pulau yang bernama ‘aku’. Didalamnya terdapat penjelasan dan gambaran tentang ‘siapa aku?’. Kemudian, berangkat dari pengalaman masa lampau dan impian-impianku yang aku tuliskan untuk masa depan, aku mulai mencoba menyelami jatidiriku lebih dalam, dengan menggandeng semua hal yang ada di dalam kehidupan ini. Aku dan impianku, aku dan duniaku, aku dan semuanya. Inilah aku dan semua yang ada dalam kehidupan, entah nyata atau pun tak nyata.

it is also posted at : http://rifqisangpemimpi.blogspot.com/2012/06/siapa-aku.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s