Kita Berawal Dari ‘Satu’

Bagiku, kita berawal dari satu, dimana Tuhan Yang Maha Esa (Satu) menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya dengan begitu sempurna dan luar biasa fenomenal karena kejadian tersebut tak akan mampu untuk diulang kembali oleh siapapun.

Bagiku, kita juga berawal dari satu, dimana Nabi Adam a.s. diciptakan sebagai manusia pertama dan satu-satunya pada saat itu. Setelah itu Hawa diciptakan untuk menemaninya. Kemudian, singkat cerita, mereka mempunyai anak-anak, cucu-cucu, dan keturunan-keturunannya yang lahir ke muka bumi, yang salah satunya adalah diri kita sendiri.

Bagiku, kita sebagai makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya juga berasal dari satu. Makhluk yang mempunyai satu nama yang sama, sejak ia masih didalam kandungan sampai ia berada didalam kuburan, yakni makhluk yang bernama “manusia”.

Bagiku, kita juga mempunyai kehidupan yang satu dan kematian yang satu. Sehingga sudah semestinya kita mampu memanfaatkan kedua hal yang satu tersebut.

Sahabat, Bagaimana menurutmu? Apakah memikirkan hal yang serupa?

Manusia di dunia ini memang memiliki banyak perbedaan, namun pernahkah kita berpikir bahwa kita mempunyai predikat yang sama, yakni sebagai manusia. Hal ini sangat penting untuk kita pahami, jika kita benar-benar merasa sama sebagai manusia yang diciptakan dari dua jenis yang berbeda. Kemudian menjadi sekumpulan individu yang sering kita sebut sebagai kelompok individu atau masyarakat, yang terdiri atas beberapa ras, golongan, suku, dan bangsa.

Ada beberapa Sosiologist yang juga pernah menjelaskan tentang individu yang satu dan masyarakat yang merupakan sekumpulan dari beberapa individu. Ada Weber, yang beranggapan bahwa masyarakatlah menunjukan keberadaan Individu. Ada juga Durkheim, yang beranggapan bahwa masyarakat dibentuk oleh individu yang satu, sehingga individu merupakan hal konkret yang menunjukan keberadaan masyarakat itu sendiri. Masih banyak beberapa orang yang mempunya konsep tentang individu dan masyarakat, seperti Ibn Khaldun dan lain-lain. Namun, terlepas dari beberapa teori yang ada tentang individu yang satu dan masyarakat itu sendiri. Dapat dikatakan semua sepakat bahwa Individu yang satu tersebutlah yang merupakan konstruksi dasar yang menjadi bagian dari masyarakat atau kelompok individu yang beragam. Sehingga, individu yang juga dapat dikatakan sebagai seorang manusia merupakan alasan mengapa beberapa ras, golongan, suku dan bangsa dapat hadir. Entah kita melihat dari anggapan yang percaya bahwa masyarakat yang menunjukan individu atau individu yang menunjukan masyarakat, yang terpenting adalah tentang kesadaran bahwa kita merupakan “ummatan waahidatan”, individu atau dalam hal ini manusia adalah ummat yang satu.

Sederhananya, ketika kita memiliki kesadaran bersama tentang rasa kesatuan sebagai manusia, maka sudah semestinya rasa kesatuan tersebut diiringi dengan rasa saling menghormati, saling menghargai, toleransi, saling peduli dan rasa saling menyayangi sebagai bentuk “ukhuwah insaniyyah”. Sehingga konflik-konflik yang muncul antar ‘kelas’ dapat terminimalisir bahkan tidak mungkin dapat terjadi.

Dalam konsep idealism yang percaya bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan baik, konsep kesatuan demi mencapai kedamaian, keadilan dan ketentraman hidup ini merupakan tujuan yang sungguh utopis. Karena pada faktanya manusia selalu mengalami ‘clash’ satu dengan yang lainnya. Namun sebenarnya, hal ini juga merupakan ekspektasi bersama yang besar, karena setiap manusia pada dasarnya ingin mencapai kedamaian, keadilan dan ketentraman hidup. Untuk itulah kita perlu mengambil beberapa hikmah yang ada, yang mampu kita interpretasikan menjadi keadaan yang baik bagi sesama manusia. Sehingga kita dapat memahami hakikat sebuah kesatuan sebagai manusia, yakni berawal dari ‘satu’ ketika kita semua dilahirkan sebagai manusia, kemudian menjadi ‘satu’ demi mencapai kedamaian, keadilan dan ketentraman hidup bersama, dan berakhir dalam ‘satu’ kondisi yakni akhir hayat yang damai dengan senyuman.

One thought on “Kita Berawal Dari ‘Satu’

  1. Pingback: Sebuah Tantangan: The Clash of Civilizations | Qy's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s