Bimbang…

Banyak orang berkata bahwa “hidup ini adalah pilihan”. Aku kadanga berpikir, kalau pun demikian, maka aku perlu menyadari bahwa ada pilihan yang harus aku pilih. Entah pilihan yang ada dua, atau bahkan lebih, yang pasti dalam mempertimbangkan pilihan setidaknya kita perlu menggunakan rumus degree of freedom (N-1). Dimana, N (banyak pilihan) dikurangi dengan satu-satunya pilihan yang akan kita pilih dari beberapa pilihan yang ada. Karena, bagiku, sejatinya pilihan berjumlah 1, bukan 2 atau pun 3. Itulah mengapa menentukan sebuah pilihan (yang 1) merupakan hal yang sangat sulit, karena terkadang kita bimbang dalam menentukan pilihan yang terbaik dengan mengorbankan pilihan-pilihan baik lainnya.

Dini hari, tepat pukul 03.00 WIB ini, entah mengapa aku teringat akan kata-kata Soe Hok Gie, “…lebih baik terasingkan, daripada harus menyerah pada kemunafikan”. Kata-kata itu sepertinya cocok dengan kondisiku pagi buta ini. Terenyuh rasanya jika kata-kata tersebut menjadi penghias renungan diri sambil menunggu fajar tiba. Ya, tentu saja semua itu karena aku sedang merasa jenuh dengan kemunafikan yang sebenarnya aku tak tahu, apakah itu ada dalam diriku atau diluar diriku? Continue reading

Ikatan…

“Kebebasan” dan “Kemerdekaan”, mungkin kedua hal ini terkadang menjadi dambaan bagi setiap manusia yang terkekang dalam ikatan. Dimana tindakan dan pikiran kadang terikat oleh suatu norma, sistem atau hal sejenisnya yang memaksa. Apalagi ketika hal yang memaksa tersebut seolah membatasi perkembangan setiap manusia. Setidaknya itulah mengapa banyak setiap orang yang mendambakan kata “Kebebasan” dan “Kemerdekaan”.

Mungkin hal di atas merupakan sisi kelam yang ada dari suatu ikatan. Seperti, konsep Max Weberian’s State yang menggambarkan bahwa Negara bersifat memaksa dan mengikat. Dimana setiap warga negara tidak bisa sewenang-wenang melakukan sesuatu di dalam sebuah institusi negara karena ada beberepa hal yang memaksa dan mengikatnya, seperti norma dan hukum yang berlaku dan memaksa. Dalam hal ini, tentu saja Negara menjadi sebuah ikatan yang mengikat setiap warga negara, walau pun memiliki sisi kelam yakni bersifat memaksa.

Konsep demokratisasi dan liberalisasi mungkin dapat menjadi salah satu alternatif bagi setiap manusia yang mendambakan kebebasan dan kemerdekaan diri dalam ikatan bernama Negara yang pada hakikatnya bersifat memaksa. Walau pun sebenarnya kebebasan dan kemerdekaan diri tersebut tidak dapat berlaku absolut.

Namun, perlu kita ketahui bahwa sebuah ikatan juga memiliki sisi terang nan indah. Dimana sebuah ikatan juga dapat menginterpretasikan sebuah identitas kita sebagai salah satu makhluk yang hidup di bumi, manusia. Mungkin itulah mengapa terdapat nilai kemanusiaan yang hadir dalam benak setiap manusia di setiap zaman dan era.

Sebuah ikatan juga dapat berarti sebuah persatuan. Dimana setiap organisme berkumpul menjadi satu dalam sebuah wadah yang terorganisir. Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Islam sebagai ilmu, hal tersebut merupakan mistik sosial (social myth), dimana setiap individu berkumpul menjadi satu dalam sebuah organisasi. Individu-individu yang bersatu dalam sebuah persatuan, organisasi. Continue reading

Tuhan maklumilah aku

ppi

Tuhan, bisakah aku menerima hukum-hukum-Mu tanpa meragukannya

lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih

dahulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu.

Kalau Engkau tak suka hal ini, beri aku pengertian-pengertian

sehinga keraguan itu hilang dan cepat-cepatlah aku dibawa dari

tahap keraguan-keraguan kepada tahap penerimaan. Continue reading

My Schedule, My Life Management

what_is_time_management

Dari ibnu Abas r.a. berkata Rasulullah SAW, bersabda: “memanfaatkan lima keadaan sebelum datangnya lima; masa hidup sebelum datang matimu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa muda sebelum masa tuamu dan masa kayamu sebelum masa fakirmu” (HR. al-Hakim dan al-Baiaqi).

Hadist di atas dengan tegas menjelaskan bahwa time management sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan yang lebih baik. Hadist tersebut juga memperlihatkan siklus kehidupan yang tentunya akan dialami oleh setiap umat manusia di dunia. Selain itu, secara eksplisit hadist tersebut juga memrintahkan kepada kita, umat manusia, untuk senantiasa memperhatikan lima perkara. Yakni hidup dan mati, sehat dan sakit, luang/lapang dan sibuk/sempit, tua dan muda, serta kaya dan fakir. Lima perkara tersebut merupakan siklus yang tak pernah kita ketahui kapan siklus tersebut berubah kondisi. Untuk itu, membuat time management menjadi salah satu syarat agar kita tetap pada kondisi siklus yang kita inginkan. Continue reading