Peringatan Hari Pahlawan : Sebuah Refleksi Perjuangan

Oleh : M. Rifqi Syahrizal

Dalam rangka memperingati hari pahlawan, pada tanggal 10 November 2012, kita sebagai bangsa Indonesia perlu merefleksikan diri kita atas perjuangan para pahlawan bangsa Indonesia di masa lampau. Saya merasa bahwa kita perlu merefleksikannya secara objektif pesan-pesan dari seluruh pahlawan yang telah berjuang, baik yang berjuang dalam rangka merebut kemerdekaan Indonesia atau yang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan oleh Bapak Presiden Soekarno di jalan pegangsaan timur no. 56 Jakarta Pusat. Bentuk refleksi ini tidak lain adalah untuk menghormati jasa-jasa mereka, sehingga saat ini kita dapat menikmati kemerdekaan serta menjadi bangsa Indonesia yang merdeka secara de jure di mata dunia.

Perlunya refleksi nilai sejarah perjuangan pahlawan

Saya bukanlah orang yang hafal akan dinamika sejarah perjuangan bangsa Indonesia secara ‘kaffah’. Tapi saya hanya mencoba meresapi nilai-nilai yang memang perlu saya dan kita semua resapi dalam dinamika sejarah perjuangan tersebut. Hal ini menjadi hal yang penting bagi kita, karena kita adalah pemegang estafeta perjuangan tersebut. Mungkin, hal ini juga merupakan sebuah tugas alamiah bagi kita yang lahir dan menjadi bagian dari sebuah komunitas, bangsa Indonesia. Itulah mengapa kita perlu sedikitnya memahami dan mampu memaknai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di masa lalu, untuk kearifan di masa yang akan datang.

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia memang menggambarkan penindasan-penindasan yang dilakukan oleh para koloni. Selain itu juga menceritakan ketakutan bangsa Indonesia atas penindasan tersebut. Namun perlu kita ketahui bahwa di sisi lain sejarah tersebut juga menggambarkan perjuangan para insan-insan pemberani yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan demi merebut sebuah kemerdekaan yang berdaulat untuk bangsa Indonesia dari para koloni. Insan-insan tersebutlah yang pantas mendapatkan predikat atau gelar sebagai Pahlawan.

Bangsa Indonesia, saat ini memberikan sebuah penghormatan terhadap para pejuang-pejuang bangsa dengan memberikan predikat kepada mereka sebagai Pahlawan Nasional. Jenderal Soedirman, Muhammad Hatta, Dr. Soetomo, Tjokroaminoto, M. Natsir, Sutan Syahrir, Ki Hajar Dewantara dan masih banyak lagi para insan-insan pemberani, yang tak bisa disebutkan satu per satu, yang memberikan kontribusi mulia terhadap bangsa sehingga mendapat predikat sebagai ‘Pahlawan Nasional’.

Pahlawan-pahlawan tersebut merupakan orang-orang yang bisa kita anggap sebagai orang ‘gila’ (dalam arti positif). Mereka adalah orang-orang yang ‘gila’ dalam melawan ketidakadilan dan penindasan sehingga berani mempertaruhkan nyawanya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang ‘gila’ dalam memperjuangkan kemerdekaan sebagai harga mati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga kita dapat menikmati sebuah negara yang berdaulat dengan nama Indonesia. Untuk itu kita perlu merefleksikan dan memaknai nilai-nilai perjuangan yang ada secara radikal dan nilai-nilai yang juga dijunjung oleh para pahlawan, sehingga kita mampu memaknai arti sebuah perjuangan menuju kemerdekaan, perubahan dan esensi kemerdekaan itu sendiri.

Ironi pemberian gelar Pahlawan Nasional

Menurut saya terdapat hal yang menarik untuk kita telaah, ketika kita berbicara tentang Pahlawan Nasional sebagai gelar bagi orang-orang yang telah berjuang untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal tersebut memunculkan beberapa pertanyaan mendasar dalam benak saya tentang apa sebenarnya maksud dari pemberian gelar Pahlawan Nasional yang diberikan pemerintah? Apa sebenarnya kriteria khusus yang dibuat pemerintah untuk menentukan seseorang sebagai Pahlawan Nasional? Perlu atau tidakkah pemberian gelar Pahlawan Nasional terhadap insan-insan yang telah memberikan kontribusi mulia untuk bangsa?

Dalam Prosedur Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional yang dibuat oleh Kementrian Sosial RI, Gelar diartikan sebagai penghargaan negara yang diberikan presiden kepada seseorang yang telah gugur atau meninggal dunia atas perjuangan, pengabdian, darmabakti dan karya yang luar biasa kepada bangsa da Negara. Sementara itu, Pahlawan Nasional diartikan sebagai gelar yang diberikan kepada warga Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajah di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan Negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia. Pengertian tersebut juga dijelaskan dalam sebuah ketentuan legal, yakni dalam UU Nomor 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan (GTK).

Jika kita melihat beberapa pengertian di atas, gelar tersebut berlaku bagi siapa saja yang berjuang demi bangsa dan Negara dalam berbagai aspek. Jadi, gelar Pahlawan Nasional berhak dimiliki bagi siapa pun yang melakukan tindakan kepahlawanan, berkarya, berprestasi, dan berjuang demi bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Seperti kita ketahui bahwa setiap tahun pada tanggal 10 November, pemerintah Indonesia menetapkan nama-nama tokoh yang diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional dengan kriteria yang telah ditentukan dalam UU Nomor 20 Tahun 2009. Di satu sisi, hal ini menjadi momen refleksi untuk kita dalam meresapi nilai-nilai yang dibawa oleh setiap tokoh pahlawan tersebut. Namun, di sisi lain, hal ini menjadi ironis karena banyak sekali para pejuang yang berjuang dengan jiwa dan raganya demi bangsa dan Negara, tetapi namanya tidak dicantumkan sebagai orang yang berhak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

Inilah sebuah Ironi pemberian gelar Pahlawan Nasional. Ketika gelar Pahlawan Nasional hanya disanding oleh para elit-elit sejarah. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah diungkapkan Dawam Raharjo bahwa sejarah adalah milik para elit. Namun, apakah gelar Pahlawan Nasional pun harus disanding oleh kaum elit saja?

Untuk itu, menurut saya pemberian gelar Pahlawan Nasional ini tidak diperlukan jika sosok kandidat yang memperoleh gelar tersebut sudah memenuhi kriteria secara umum. Maksudnya, pemberian gelar Pahlawan Nasional secara de jure tidak diperlukan apabila ia sudah sah menjadi Pahlawan Nasional secara de facto di mata bangsa dan Negara Indonesia pada umumnya. Seperti terpilihnya Soekarno dan M. Hatta sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2012 lalu. Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada salah dua pelopor proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tersebut juga merupakan sebuah ironi dalam pemberian gelar pahlawan nasional, karena diberikan atau tidaknya gelar Pahlawan Nasional secara formal dan seremonial, mereka harus benar-benar kita, bangsa, dan Negara akui sebagai Pahlawan Nasional.

Menurut saya, dalam hal ini pemerintah harusnya sudah mampu mengklasifikasikan tokoh-tokoh sejarah yang memang sudah seharusnya dianggap menjadi Pahlawan Nasional secara baik serta mensosialisasikan nilai-nilai kepahlawanan walaupun nilai tersebut berasal dari pahlawan tanpa nama (unamed hero) , sehingga setiap warga negara dapat menerima setiap pesan yang tersirat dari para Pahlawan Nasional secara keseluruhan. Selain itu, agar kita mengetahui bahwa ada pelajaran dan jasa dari para Pahlawan yang terbaring tanpa nama di tanah subur pemakaman para Pahlawan.

Mari menjadi bangsa yang besar!

Soekarno pernah berkata bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nov. 1961). Pesan ini setidaknya menjelaskan bahwa keadaan bangsa saat ini adalah buah dari perjuangan di masa lalu dan keadaan bangsa di masa depan merupakan buah perjuangan di masa kini. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa perjuangan dahulu, kini dan di masa yang akan datang memiliki korelasi. Sehingga ungkapan Soekarno tadi merupakan salah satu manifestasi dari korelasi perjuangan bangsa dahulu, kini, dan masa yang akan datang untuk menjadi sebuah bangsa yang ‘besar’.

Soekarno juga pernah berkata bahwa “Tuhan tidak merobah nasibnya suatu bangsa, sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964). Pesan Bapak Proklamator ini juga menjelaskan dan menegaskan kepada kita bahwa perubahan, kemajuan, dan keadaan bangsa Indonesia ada di tangan kita sendiri sebagai bangsa. Kita yang lahir dalam situasi negara yang merdeka perlu menjalani amanah alamiah kita sebagai warga negara Indonesia. Kita tidak perlu lagi berdebat tentang imagine Community bangsa ini karena sebelumnya para pahlawan kita telah menyelesaikannya, sehingga kita bisa merasakan dan menjadi bagian dari imagine Community yang bernama Bangsa Indonesia secara alami, ketika kita lahir dan menjadi warga negara Indonesia.

Dalam konteks nasionalisme, kita sebagai pemegang estafet perjuangan bangsa Indonesia perlu memaknai, menginternalisasikan, dan memperjuangkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap gerakan bangsa haruslah berorientasi pada hal tersebut, sehingga takkan ada lagi kolonialisasi dalam bentuk apapun dalam diri bangsa Indonesia.

Terakhir, mari kita menjadi bangsa yang cinta akan perjuangan, sehingga bangsa yang ‘besar’ yang menjadi harapan para pahlawan terdahulu dan generasi saat ini dapat terwujud. Dengan kesungguhan kita dalam belajar, berprestasi dan berkarya demi kemajuan bangsa dan Negara, mari kita menghargai jasa-jasa pahlawan kita terdahulu. Perlu kita ingat kembali bahwa tidak ada bangsa yang dapat berubah menjadi lebih baik dan menjadi bangsa yang besar, sebelum bangsa itu melakukan perubahan pada dirinya sendiri.

salam perjuangan, salam perubahan

(sumber gambar : http://www.flickr.com/photos/akinini/7936070274/)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s